by Made Teddy Artiana, S. Kom
MTA PHOTOGRAPHY
[karena manusia mulia dan hidupnya berharga]
teddyartiana_photography@yahoo.com
Byuuuuuuuuuuurrrrrrrr !!!!!
Hujan deras tiba-tiba saja turun mengguyur Kebun Raya Bogor, bagaikan disiram ember raksasa dari langit. Tanpa dikomando, kami bubar-jalan mencari tempat berteduh. Acara preweddingpun terpaksa di-break sesaat, padahal prewedding baru berlangsung 2-3 jam.
Untung ini kebun raya, jadi tidak terlalu sulit untuk mencari tempat teduh untuk berlindung, lumayan lah. Tetapi yang namanya hujan rupanya tidak kenal kompromi. Bukannya bertambah reda malah semakin lebat. Sekali lagi…-biasa orang indonesia- untuuuung ada beberapa pasangan yang kebetulan lagi nge-date disekitar kami, dan untungnya lagi..mereka bawa payung. Jadi nebenglah kami pada mereka.
“Maaf ya Mas..nebeng” ujarku sesopan mungkin
“Oh nggak apa-apa”, jawab pasangan itu hampir serempak.
“Kayanya kemesraaan jadi terganggu nih”, celetukku mencairkan suasana
“Oh…nggak kok..santai aja Mas”, jawab sang cowok sambil terseyum ramah
Segera setelah mendapat tebengan dalam payung mereka, buru-buru aku mengecek kameraku. Satu persatu kuamati bagian-bagiannya. Syuukuur nggak ada yang basah, kataku membathin. Hampir saja aku membawa seluruh perlengkapan beserta tasnya, tetapi untunglah niat itu aku urungkan. Perlengkapan lain dan tas kamera sudah aku letakkan dalam mobil clientku, jadi aman deh…coba kallo semuanya kubawa…weleh-weleh
“Mas..”, sapaan si cowok mengagetkan ku yang tengah asyik memeriksa kamera.
“Apaan…”, jawabku tanpa menoleh
“Yang disebelah siapa ?”
“Apa..?”, aku memandangnya sebentar
“Maaf, yang disebelah Mas itu siapa ?”, tanyanya sambil melirik kesebelah kananku
“Yang disebelah, ooh Istri”, jawabku singkat.
ASTAGA !!!!
Payung ini khan hanya muat bertiga –pasangan itu dan aku-
berarti Si Wida, istriku………………….YA AMPUUUUNNNNN…!!!!
Bagaikan tersambar petir aku segera menoleh kesebelah kananku. Dan tampaklah Wida, istriku, dengan rambut lepek dan baju basah kuyub, tersiram hujan, memandangiku dengan kesal. Rupanya saking paniknya aku dengan urusan kameraku, sampai-sampai aku lupa memberikan sedikit ruang untuk istriku berteduh. Alhasil, dia berdiri bebas, dan basah kuyub..sekuyub-kuyubnya.
“Ah..aku sih sudah biasa Mas..”, sahut Wida, sambil melirik kearahku
“Untung istriku bisa diajak susah…”, timpalku sambil nyengir menahan malu.
Dan semua orang yang sedang berteduh disitu pun tertawa geli menyaksikan kejadian konyol itu, termasuk clientku.
Wadooowww..kayanya ntar dirumah nih urusannya bakal berat....
***
Kamis, 19 November 2009
Terkunci Dalam Gelap di Prambanan
by Made Teddy Artiana, S. Kom
MTA PHOTOGRAPHY
[karena manusia mulia dan hidupnya berharga]
teddyartiana_photography@yahoo.com
Prewedding kali ini memang agak telat dimulainya. Sandra dan Adi (bukan nama sebenarnya) memang datang terlambat menjemput kami. Ada urusan keluarga dulu, kata mereka. Kami berempatpun berangkat menuju Prambanan, lokasi satu-satunya di Jogja yang mereka inginkan.
Kami tiba dilokasi sekitar jam 15.00 WIB. Prambanan tidak terlalu ramai pengunjung waktu itu, maklum bukan hari libur. Jadi hanya segelintir orang yang menyebar disana-sini nyempil diantara candi-candi yang berdiri megah. Ini jelas-jelas sangat menguntungkan kami. Kebayang dong sulitnya motret diantara hilir mudik orang-orang. Belum lagi kebiasaan orang Indonesia yang suka sengaja mondar-mandir, petantang-petenteng, terus celingukan jika ada yang sibuk motret atau syuting. Bayangkan dengan orang-orang di Singapore sana, jangankan pemotretan, ngelihat orang motret iseng aja, mereka langsung menepi memberi kesempatan. Ngeselin !!!…he..he..he..tapi begitulah rigth or wrong is my country.
Ada dua buah kejadian unik yang terjadi waktu itu. Pertama, saking tingginya adrenaline Sandra dan Adi, sampai-sampai mereka sempat memanjat naik dan nangkring diujung salah satu candi. Peringatan ku sebagai photographer yang bertugas memotret prewed ini mereka abaikan.
“Gue yang tanggung jawab Mas”, kata Adi, “Tugas elu hanya take the moment..ok Boss ?.”
Walaupun dengan berat hati aku mengiyakan permintaan Adi. Memang sudah menjadi komitmenku untuk menjaga benar calon-calon pengantin ini ketika foto prewed berlangsung. Semoga tidak terjadi apa-apa, keluhku sambil menahan nafas.
Begitu tiba diujung candi, Adi dan Sandra segera memberi kode padaku untuk segera mengeksekusi adegan ini. Tiba-tiba teriakan petugas candi mengagetkan kami “Hoiiiiii…turun kamu !!!”. Petugas itu tergopoh-gopoh berlari kearah ku. Wajahnya marah bercampur was-was.
“Pak sekali saja Pak”, pintaku, “kasihan Pak sudah terlan…”.
“Kallo mereka jatuh kamu mau tanggung jawab ?”, potong petugas itu dengan mata melotot.
“Saya yang tanggung jawab Pak”, teriak Adi sambil tersenyum dari atas sana,”photographer nya gak salah..saya yang maksa Pak”.
Aku hanya bisa nyengir, sambil memberi kode dengan telunjuk kananku membentuk angka satu.
“Sekali aja ya Pak..maaf nuwun sewu njih”, ujarku sesopan mungkin.
“Anak muda jaman sekarang memang uedaaaan !!!”, umpat nya sambil pergi meninggalkan kami.
“Kalau terjadi apa-apa saya gak tanggung jawab”, teriaknya dari kejauhan.
Ungkapan ini mirip ungkapan yang sering kita dengar difilm-film Holywood, terutama yang melibatkan polisi, mafia atau gank-gank kawasan kumuh.“We see nothing”, kata mereka bermaksud tidak ingin terlibat secara hukum dalam sebuah kejadian kriminal.
Lanjut….
Prewedding selesai pukul 18.50 WIB. Di Jakarta, jam segini masih sore. Apalagi di Kuta, jam segini sih masih siang. Tapi ini di Prambanan, Jogjakarta. Candi –yang aku juga baru tahu -jam17.30 WIB sudah tutup. Dan hari ini tidak ada pementasan Sendratari yang biasa dipentaskan di Prambanan pada malam minggu. Jadi kesimpulannya : Prambanan bukan cuma sudah tutup, tapi kami sudah terkunci dari luar. Bagus banget !!!
Untunglah ada lampu-lampu sorot itu, karena tanpanya kegelapan di Prambanan mungkin mirip dengan Planet Pluto. Gelap dan dingin. Lalu terlihatlah oleh oleh seorang petugas yang baik hati, empat orang anak muda yang berjalan lontang lantung dalam kegelapan (bahkan seseorang dari antara mereka tampak berjalan nyeker, sambil menenteng sepatu hak tingginya). Mirip pemain-pemain sendratari Ramayana modern yang gak jadi manggung karena salah hari ! Untunglah sang malaikat penyelamat itu berbaik hati membuka kunci pintu pagar sambil tak lupa memberikan wejangan berupa omelan-omelan khas orang Jawa.
“Kok bisa kalian terkunci di dalam ??!!!”, tanya Si Bapak berulang-ulang tak kuasa menahan keheranannya. “KOK BISA ???”
MTA PHOTOGRAPHY
[karena manusia mulia dan hidupnya berharga]
teddyartiana_photography@yahoo.com
Prewedding kali ini memang agak telat dimulainya. Sandra dan Adi (bukan nama sebenarnya) memang datang terlambat menjemput kami. Ada urusan keluarga dulu, kata mereka. Kami berempatpun berangkat menuju Prambanan, lokasi satu-satunya di Jogja yang mereka inginkan.
Kami tiba dilokasi sekitar jam 15.00 WIB. Prambanan tidak terlalu ramai pengunjung waktu itu, maklum bukan hari libur. Jadi hanya segelintir orang yang menyebar disana-sini nyempil diantara candi-candi yang berdiri megah. Ini jelas-jelas sangat menguntungkan kami. Kebayang dong sulitnya motret diantara hilir mudik orang-orang. Belum lagi kebiasaan orang Indonesia yang suka sengaja mondar-mandir, petantang-petenteng, terus celingukan jika ada yang sibuk motret atau syuting. Bayangkan dengan orang-orang di Singapore sana, jangankan pemotretan, ngelihat orang motret iseng aja, mereka langsung menepi memberi kesempatan. Ngeselin !!!…he..he..he..tapi begitulah rigth or wrong is my country.
Ada dua buah kejadian unik yang terjadi waktu itu. Pertama, saking tingginya adrenaline Sandra dan Adi, sampai-sampai mereka sempat memanjat naik dan nangkring diujung salah satu candi. Peringatan ku sebagai photographer yang bertugas memotret prewed ini mereka abaikan.
“Gue yang tanggung jawab Mas”, kata Adi, “Tugas elu hanya take the moment..ok Boss ?.”
Walaupun dengan berat hati aku mengiyakan permintaan Adi. Memang sudah menjadi komitmenku untuk menjaga benar calon-calon pengantin ini ketika foto prewed berlangsung. Semoga tidak terjadi apa-apa, keluhku sambil menahan nafas.
Begitu tiba diujung candi, Adi dan Sandra segera memberi kode padaku untuk segera mengeksekusi adegan ini. Tiba-tiba teriakan petugas candi mengagetkan kami “Hoiiiiii…turun kamu !!!”. Petugas itu tergopoh-gopoh berlari kearah ku. Wajahnya marah bercampur was-was.
“Pak sekali saja Pak”, pintaku, “kasihan Pak sudah terlan…”.
“Kallo mereka jatuh kamu mau tanggung jawab ?”, potong petugas itu dengan mata melotot.
“Saya yang tanggung jawab Pak”, teriak Adi sambil tersenyum dari atas sana,”photographer nya gak salah..saya yang maksa Pak”.
Aku hanya bisa nyengir, sambil memberi kode dengan telunjuk kananku membentuk angka satu.
“Sekali aja ya Pak..maaf nuwun sewu njih”, ujarku sesopan mungkin.
“Anak muda jaman sekarang memang uedaaaan !!!”, umpat nya sambil pergi meninggalkan kami.
“Kalau terjadi apa-apa saya gak tanggung jawab”, teriaknya dari kejauhan.
Ungkapan ini mirip ungkapan yang sering kita dengar difilm-film Holywood, terutama yang melibatkan polisi, mafia atau gank-gank kawasan kumuh.“We see nothing”, kata mereka bermaksud tidak ingin terlibat secara hukum dalam sebuah kejadian kriminal.
Lanjut….
Prewedding selesai pukul 18.50 WIB. Di Jakarta, jam segini masih sore. Apalagi di Kuta, jam segini sih masih siang. Tapi ini di Prambanan, Jogjakarta. Candi –yang aku juga baru tahu -jam17.30 WIB sudah tutup. Dan hari ini tidak ada pementasan Sendratari yang biasa dipentaskan di Prambanan pada malam minggu. Jadi kesimpulannya : Prambanan bukan cuma sudah tutup, tapi kami sudah terkunci dari luar. Bagus banget !!!
Untunglah ada lampu-lampu sorot itu, karena tanpanya kegelapan di Prambanan mungkin mirip dengan Planet Pluto. Gelap dan dingin. Lalu terlihatlah oleh oleh seorang petugas yang baik hati, empat orang anak muda yang berjalan lontang lantung dalam kegelapan (bahkan seseorang dari antara mereka tampak berjalan nyeker, sambil menenteng sepatu hak tingginya). Mirip pemain-pemain sendratari Ramayana modern yang gak jadi manggung karena salah hari ! Untunglah sang malaikat penyelamat itu berbaik hati membuka kunci pintu pagar sambil tak lupa memberikan wejangan berupa omelan-omelan khas orang Jawa.
“Kok bisa kalian terkunci di dalam ??!!!”, tanya Si Bapak berulang-ulang tak kuasa menahan keheranannya. “KOK BISA ???”
Kebakaran di Ujung Genteng
by Made Teddy Artiana, S. Kom
MTA PHOTOGRAPHY
[karena manusia mulia dan hidupnya berharga]
teddyartiana_photography@yahoo.com
Berangkat dari rumah jam 06.00 WIB dan tiba dilokasi, tepat pukul 11.30 WIB. Akhirnya kami kembali bisa menginjakkan kaki dibumi(tepatnya diatas pasir), setelah lima setengah jam berayun-ayun dalam sebuah benda bernama mobil.
“Sebelum make up kita makan siang dulu Mas”, kata Radja & Dini (bukan nama sebenarnya) kepadaku dan team. Setelah pindah temat dua kali, kami akhirnya masuk kesebuah rumah makan seafood yang kami rasa cukup representative. Bentuknya unik. Paduan serasi dari bambu, gedek dan jerami. Tapi setelah masuk kedalam..kok sepi ? Mana yang jualan..? Tidak ada seorangpun yang tampak. Yang terdengar hanya tangisan bayi disuatu ruangan didalam rumah makan itu.
Setelah meneriakkan “permisi” “spada” “asamualaikum” berkali-kali akhirnya munculan seorang ibu dengan bayi yang sedang menangis digendongannya.
“Maaf, sedang gak ada orang”, sapanya ramah dengan penampilan agak awut-awutan.
Mudah ditebak, wanita ini dalam keadaan yang demikian repot. Belum mengurus bayi, apalagi ngurus rumah makan.
“Tapi Ibu jualan gak ?”, tanya Dini.
“Oh jualan..jualan”, jawab Si Ibu.
Menu diberikan dan seperti adegan-adegan dirumah makan manapun –kecuali warteg- diseluruh dunia yakni : menunggu.
Terdengar kelontangan penggorengan dengan bunyi semburan kompor gas dari dalam dapur diiringi suara bayi yang masih menangis. Si Ibu nampak mondar-mandir kebingunan, sebentar kedapur, sebentar menengok bayinya. Kebetulan setiap melintas aku sedang menengok kebelakang. Entah apa yang terjadi didapur, tiba-tiba saja suatu ledakan mengejutkan kami. Dengan cepat api bekobar ke atas merambat naik keatap yang terbuat dari jalinan jerami. Makan empuk Si Jago Merah. Tak sampai lima menit, berhamburan keluarlah tuan rumah dan tamu rumah makan tersebut dengan panik.
Masing-masing mencari ember, centong, mug, gelas, atau apapun benda yang dapat dipakai untuk menampung air. Untunglah kecelakaan ini cepat diketahui oleh para tetangga dan penduduk sekitar. Maka berdatanganlah mereka berduyun-duyun membantu kami, ada yang naik keatap, ada yang menyiram dari bawah. Begitu crowded, bak pasukan Hanoman menyerbu Alengka Pura.
Akhirnya setelah berjuang sekian lama, api berhasil kami padamkan. Dengan perut laper keroncongan, kami terpaksa harus mencari rumah makan lain, sebelum memulai misi utama kami untuk photo prewedding.
Pada saat menjelang maghrib, disaat sunset, kami mendapat kado dari Sang Pencipta, berupa sunset yang luar biasa indah di sini, di Ujung Genteng. [mtaphotography::karena manusia berharga dan mulia]
MTA PHOTOGRAPHY
[karena manusia mulia dan hidupnya berharga]
teddyartiana_photography@yahoo.com
Berangkat dari rumah jam 06.00 WIB dan tiba dilokasi, tepat pukul 11.30 WIB. Akhirnya kami kembali bisa menginjakkan kaki dibumi(tepatnya diatas pasir), setelah lima setengah jam berayun-ayun dalam sebuah benda bernama mobil.
“Sebelum make up kita makan siang dulu Mas”, kata Radja & Dini (bukan nama sebenarnya) kepadaku dan team. Setelah pindah temat dua kali, kami akhirnya masuk kesebuah rumah makan seafood yang kami rasa cukup representative. Bentuknya unik. Paduan serasi dari bambu, gedek dan jerami. Tapi setelah masuk kedalam..kok sepi ? Mana yang jualan..? Tidak ada seorangpun yang tampak. Yang terdengar hanya tangisan bayi disuatu ruangan didalam rumah makan itu.
Setelah meneriakkan “permisi” “spada” “asamualaikum” berkali-kali akhirnya munculan seorang ibu dengan bayi yang sedang menangis digendongannya.
“Maaf, sedang gak ada orang”, sapanya ramah dengan penampilan agak awut-awutan.
Mudah ditebak, wanita ini dalam keadaan yang demikian repot. Belum mengurus bayi, apalagi ngurus rumah makan.
“Tapi Ibu jualan gak ?”, tanya Dini.
“Oh jualan..jualan”, jawab Si Ibu.
Menu diberikan dan seperti adegan-adegan dirumah makan manapun –kecuali warteg- diseluruh dunia yakni : menunggu.
Terdengar kelontangan penggorengan dengan bunyi semburan kompor gas dari dalam dapur diiringi suara bayi yang masih menangis. Si Ibu nampak mondar-mandir kebingunan, sebentar kedapur, sebentar menengok bayinya. Kebetulan setiap melintas aku sedang menengok kebelakang. Entah apa yang terjadi didapur, tiba-tiba saja suatu ledakan mengejutkan kami. Dengan cepat api bekobar ke atas merambat naik keatap yang terbuat dari jalinan jerami. Makan empuk Si Jago Merah. Tak sampai lima menit, berhamburan keluarlah tuan rumah dan tamu rumah makan tersebut dengan panik.
Masing-masing mencari ember, centong, mug, gelas, atau apapun benda yang dapat dipakai untuk menampung air. Untunglah kecelakaan ini cepat diketahui oleh para tetangga dan penduduk sekitar. Maka berdatanganlah mereka berduyun-duyun membantu kami, ada yang naik keatap, ada yang menyiram dari bawah. Begitu crowded, bak pasukan Hanoman menyerbu Alengka Pura.
Akhirnya setelah berjuang sekian lama, api berhasil kami padamkan. Dengan perut laper keroncongan, kami terpaksa harus mencari rumah makan lain, sebelum memulai misi utama kami untuk photo prewedding.
Pada saat menjelang maghrib, disaat sunset, kami mendapat kado dari Sang Pencipta, berupa sunset yang luar biasa indah di sini, di Ujung Genteng. [mtaphotography::karena manusia berharga dan mulia]
“Sandal Gue Maaaaaas !!”
by Made Teddy Artiana, S. Kom
MTA PHOTOGRAPHY
[karena manusia mulia dan hidupnya berharga]
teddyartiana_photography@yahoo.com
Uluwatu sedang panas-panasnya ketika kami tiba disana. Tetapi wajah Iwan dan Lia (bukan nama sebenarnya) masih sumringah. Persis seperti orang yang baru habis mandi, terus disodori sarapan nasi goreng + 2 seplok telor + susu.
Uluwatu memang tujuan utama ke-2 setelah dreamland yang masuk pada 10 daftar lokasi prewedding mereka. Mereka berdua memang belum pernah berkunjung ke tempat ini sebelumnya, akulah yang merekomendasikan tempat ini kepada mereka. Setelah melihat sample-sample foto client kami yang lain yang kebetulan kami potret di Uluwatu, maka kedua calon pengantin itupun setuju dan memasukkan Uluwatu ke daftar mereka.
Langit biru, Pura yang berdiri dalam wibawa, tebing yang kokoh, deburan ombak yang ganas, pohon kamboja dan monyet berkeliaran memang hidangan khas yang hanya bisa ditemui di Uluwatu. Tempat yang akan membuat siapapun yang memiliki mata dan telinga dan juga mulut, berdecak kagum.
“Gila tebingnya eksotik banget Mas !”, seru Iwan keheranan menyaksikan betapa luar biasanya pemandangan tebing uluwatu terhantam deburan ombak.
“Iya keren banget, two tumbs up !”, sahut Lia mengiyakan.
“Tapi hati-hati monyetnya ya”, ujarku sekedar mengingatkan keduanya.“Monyetnya gak galak, tapi jahil.”
Pemotretan preweddingpun kami mulai. Karena memang tampak menikmati suasana, keduanya terlihat ngeblend dengan background mereka, dan kami sama sekali tidak kesulitan mengeksekusi foto-foto mereka.
Hingga suatu ketika sebuah challenge diajukan oleh Iwan kepadaku.
“Aku mau background pohon kambojo kering itu Mas”, katanya sambil menunjuk salah satu pohon kamboja Bali yang memang sedang gundul karena meranggas itu.
“kallo ngambilnya dari bawah Mas..bagus gak ?”, sambungnya lagi.
“Bagus”, jawab ku.
“Tapi aku gak keliatan gendut”, tanya Lia kuatir.
Dia memang selalu terlihat kuatir, jika angle kamera berada dibawah horison.
“Tenang aja..yang penting cahaya”,jawabku menenangkan Lia.
“Ok..tapi kalian agak manjat sedikit yah..gak tinggi kok..itu dahan yang kedua. Cuman sampai disitu aja kok”, saranku pada mereka.
Mereka berdua mencopot sandal masing-masing, sebelum akhirnya memanjat dan nangkring disitu.
“Tunggu yah..oke lia kamera Iwan..Lia..good”, baru beberapa saat, tiba-tiba teriakan Iwan mengagetkan kami semua.
“Sandalku Mas…sandaaaal !!!!”
Ia terlihat panik, dan ingin bergegas loncat menyelamatkan sandalnya yang dilarikan oleh seekor monyet kecil.
“Wan..wan..tenang aja..awas nanti elu malah jatuh lho”, teriak ku mengingatkannya.
“Tapi Mas..sandalku itu..”, ia tampak kuatir.
“Iya Mas..monyet juga tahu mana yang udah lunas mana yang masih ngutang..hi..hi..hi..”, teriak Lia sambil tertawa cekikikan.
Iwan hanya cemberut, sambil matanya terus mengawasi monyet kecil itu dari atas pohon bak detektif kartun Dick Tracy, mengintai lawannya.
“Harusnya gue yang dibawah, dia yang diatas…ini malah kebalik”, gerutu Iwan
“Gampang ada triknya kok..nanti juga dibalikin kok Wan”, kata ku,”kita terusin dulu dikit lagi nih..”.
“Mas awas lu kallo gak dibalikin..”, teriak Iwan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Gue tanggung jawab Wan”, jawabku sambil memberi kode Wida –istri sekaligus make up artis kami-untuk membeli sesuatu.
Setelah dua kali jepretan, Iwan dan Liapun bergegas turun. Wida segera menyodorkan sebungkus kacang pada Iwan, untuk digunakan sebagai tukar guling dengan sandal Iwan. Dengan trik yang begitu simple, (lemparkan kacang kearah mereka, dan mereka akan mengembalikan barangmu) sandal Iwan yang tersanderapun berhasil kami bebaskan.
“Untung gak apa-apa”, gumam Iwan sambil menarik nafas lega, setelah memeriksa sandal barunya yang memang dibeli secara kredit. “Gak perlu sekolah kali, monyet dimana-mana juga tahu, sandal koko gak bisa dimakan, pahit. Mending makan kacang deh”, celetuk Lia. [mtaphotography::karena manusia berharga dan mulia]
MTA PHOTOGRAPHY
[karena manusia mulia dan hidupnya berharga]
teddyartiana_photography@yahoo.com
Uluwatu sedang panas-panasnya ketika kami tiba disana. Tetapi wajah Iwan dan Lia (bukan nama sebenarnya) masih sumringah. Persis seperti orang yang baru habis mandi, terus disodori sarapan nasi goreng + 2 seplok telor + susu.
Uluwatu memang tujuan utama ke-2 setelah dreamland yang masuk pada 10 daftar lokasi prewedding mereka. Mereka berdua memang belum pernah berkunjung ke tempat ini sebelumnya, akulah yang merekomendasikan tempat ini kepada mereka. Setelah melihat sample-sample foto client kami yang lain yang kebetulan kami potret di Uluwatu, maka kedua calon pengantin itupun setuju dan memasukkan Uluwatu ke daftar mereka.
Langit biru, Pura yang berdiri dalam wibawa, tebing yang kokoh, deburan ombak yang ganas, pohon kamboja dan monyet berkeliaran memang hidangan khas yang hanya bisa ditemui di Uluwatu. Tempat yang akan membuat siapapun yang memiliki mata dan telinga dan juga mulut, berdecak kagum.
“Gila tebingnya eksotik banget Mas !”, seru Iwan keheranan menyaksikan betapa luar biasanya pemandangan tebing uluwatu terhantam deburan ombak.
“Iya keren banget, two tumbs up !”, sahut Lia mengiyakan.
“Tapi hati-hati monyetnya ya”, ujarku sekedar mengingatkan keduanya.“Monyetnya gak galak, tapi jahil.”
Pemotretan preweddingpun kami mulai. Karena memang tampak menikmati suasana, keduanya terlihat ngeblend dengan background mereka, dan kami sama sekali tidak kesulitan mengeksekusi foto-foto mereka.
Hingga suatu ketika sebuah challenge diajukan oleh Iwan kepadaku.
“Aku mau background pohon kambojo kering itu Mas”, katanya sambil menunjuk salah satu pohon kamboja Bali yang memang sedang gundul karena meranggas itu.
“kallo ngambilnya dari bawah Mas..bagus gak ?”, sambungnya lagi.
“Bagus”, jawab ku.
“Tapi aku gak keliatan gendut”, tanya Lia kuatir.
Dia memang selalu terlihat kuatir, jika angle kamera berada dibawah horison.
“Tenang aja..yang penting cahaya”,jawabku menenangkan Lia.
“Ok..tapi kalian agak manjat sedikit yah..gak tinggi kok..itu dahan yang kedua. Cuman sampai disitu aja kok”, saranku pada mereka.
Mereka berdua mencopot sandal masing-masing, sebelum akhirnya memanjat dan nangkring disitu.
“Tunggu yah..oke lia kamera Iwan..Lia..good”, baru beberapa saat, tiba-tiba teriakan Iwan mengagetkan kami semua.
“Sandalku Mas…sandaaaal !!!!”
Ia terlihat panik, dan ingin bergegas loncat menyelamatkan sandalnya yang dilarikan oleh seekor monyet kecil.
“Wan..wan..tenang aja..awas nanti elu malah jatuh lho”, teriak ku mengingatkannya.
“Tapi Mas..sandalku itu..”, ia tampak kuatir.
“Iya Mas..monyet juga tahu mana yang udah lunas mana yang masih ngutang..hi..hi..hi..”, teriak Lia sambil tertawa cekikikan.
Iwan hanya cemberut, sambil matanya terus mengawasi monyet kecil itu dari atas pohon bak detektif kartun Dick Tracy, mengintai lawannya.
“Harusnya gue yang dibawah, dia yang diatas…ini malah kebalik”, gerutu Iwan
“Gampang ada triknya kok..nanti juga dibalikin kok Wan”, kata ku,”kita terusin dulu dikit lagi nih..”.
“Mas awas lu kallo gak dibalikin..”, teriak Iwan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Gue tanggung jawab Wan”, jawabku sambil memberi kode Wida –istri sekaligus make up artis kami-untuk membeli sesuatu.
Setelah dua kali jepretan, Iwan dan Liapun bergegas turun. Wida segera menyodorkan sebungkus kacang pada Iwan, untuk digunakan sebagai tukar guling dengan sandal Iwan. Dengan trik yang begitu simple, (lemparkan kacang kearah mereka, dan mereka akan mengembalikan barangmu) sandal Iwan yang tersanderapun berhasil kami bebaskan.
“Untung gak apa-apa”, gumam Iwan sambil menarik nafas lega, setelah memeriksa sandal barunya yang memang dibeli secara kredit. “Gak perlu sekolah kali, monyet dimana-mana juga tahu, sandal koko gak bisa dimakan, pahit. Mending makan kacang deh”, celetuk Lia. [mtaphotography::karena manusia berharga dan mulia]
Sunrise dan Toilet
by Made Teddy Artiana, S. Kom
MTA PHOTOGRAPHY
[karena manusia mulia dan hidupnya berharga]
teddyartiana_photography@yahoo.com
Kami sudah tiba dilokasi sekitar pukul 04.00 WITA (Bali termasuk wilayah waktu Indonesia bagian tengah). Waktu itu Sanur masih gelap, bukan hanya karena kurangnya lampu disekitar pantai, tetapi memang jam-jam segitu wajarnya sih masih gelap. Waktu terus bertambah, namun dia yang kami tunggu-tunggu belum muncul juga. Sebenarnya sih ia sudah ada sejak tadi, hanya saja kumpulan awan-awan dilangit bersekongkol tidak memberikan kesempatan padanya untuk nongol.
Wajah Dewi dan Anto (bukan nama sebenarnya) tampak kecewa. Betapa tidak, jauh-jauh dari Jakarta, datang ke Pulau Dewata, terus bangun pagi-pagi buta, mendahului ayam Bali, maksud hati ingin prewedding dengan background sunrisenya Sanur, eh justru background utamanya gak ada. Sanurnya sih ada…mataharinya yang gak ada. Apa jadinya sunrise tanpa benda bulat bersinar itu.
“Mas aku ke toilet dulu,” kata Dewi kepadaku, “belum sempet nih buang sampahnya di hotel”.Aku mengangguk tersenyum.
Tetapi kemudian terjadilah sesuatu yang tidak terduga. Entah karena angin yang bertiup kencang, atau karena memang sudah bosan kongkow-kongkow awan-awan itupun menepi, lalu tampaklah Sang Primadona yang kami tunggu-tunggu. Matahari pagi. Sejujurnya, meski sudah tidak terhitung banyaknya melihat sunrise, belum pernah sekalipun aku mengalami hal seperti ini. Tidak hanya suasana pantai dan gradasi warna yang berubah, wajah Anto pun jadi sumringah. Bak karyawan, dibolehin libur tanpa potong cuti sama Boss. Parahnya, Dewi yang lagi nongkrong tidak tahu sedikitpun tentang perkembangan menggembirakan ini.
Kuatir awan-awan segera akan menutupi Sang Surya, aku menganjurkan agar Anto menyusul Dewi ke toilet yang letaknya tidak jauh dari tempat kami menunggu dan menyuruhnya bergegas. Sementara aku dan crew menyiapkan peralatan kami.
Lalu terdengarlah dialog sebagai berikut,
“Yang..mataharinya keluar. Buruan Yang”, teriak Anto
“Tapi aku masih nanggung Babe”, Dewi menyahut dengan suara tertahan seperti layaknya seseorang yang sedang menghimpun kekuatan untuk mendorong sesuatu.
“Nanti aja diterusinnya Yang, mataharinya ntar ketutupan awan lagi lho !!”, balas Anto
“Aduh gimana caranya nih ? suer lagi nanggung banget babe”, jawab Dewi gugup.
“Alaaah..potong aja dulu…ntar dilanjutin”, teriak Anto mulai kesal.
“Ya ampun sabar dong..Babe”,pinta Dewi
“Dasar lelet nih..awas ya kallo sunrisenya gak dapet”, ancam Anto
“Iya sayang..lagi cebook nih”. Kini terdengarlah suara kedombrangan dari dalam toilet, entah apa yang terjadi hanya Dewi yang tahu.
“Dewiiiiiii !!!!!!!!”, teriakan terakhir Anto inilah yang membuat akhirnya Dewi nongol meski dengan nafas terengah-engah, seperti bebek yang baru habis diuber-uber anjing.
Tanpa babibu, Anto segera menyeret Dewi ke tepi pantai lalu bergegas memposisikan diri seperti phose yang ia harapkan. Mengatur posisi tangan, kaki, badan singkatnya segala sesuatu yang biasanya menjadi tugas kami. Sementara Aku dan crew hanya tertawa geli menyaksikan tingkah keduanya.
Setelah kurang lebih satu jam melakukan pemotretan. Dewi bergegas menghampiriku, “Gimana Mas Ted, sudah dapet khan ?”. Aku menyodorkan kamera kepadanya, “Nih liat aja sendiri ya Wi”.
Sejenak mereka berdua terlihat serius mengamat-amati photo-photo sunrise mereka, sambil tersenyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba Dewi bertanya,”Mas Teddy..kira-kira perlu lagi gak ?”.
“Lho terserah kalian”, jawabku,”As long as you ready, I’m ready too”.
“Kayanya cukup ya..”, sahut Dewi sambil melirik kearah Anto.
Anto terlihat mengangguk-angguk, tangannya masih terlihat menggenggam kameraku.
“Ya sudah..kallo gitu aku cabut dulu yah”, ujar Dewi sambil bergegas lari kearah toilet.
“Yang..kamu mo ngapain ??”,tanya Anto.
“Lho..khan mau nerusin POTONGAN yang tadi..babe”, ujar Dewi tanpa menoleh kebelakang dan segera menutup pintu toilet.
“HA..HA..HA..HA....!!!!” dan kami semuapun tertawa terbahak-bahak. [mtaphotography::karena manusia berharga dan mulia]
MTA PHOTOGRAPHY
[karena manusia mulia dan hidupnya berharga]
teddyartiana_photography@yahoo.com
Kami sudah tiba dilokasi sekitar pukul 04.00 WITA (Bali termasuk wilayah waktu Indonesia bagian tengah). Waktu itu Sanur masih gelap, bukan hanya karena kurangnya lampu disekitar pantai, tetapi memang jam-jam segitu wajarnya sih masih gelap. Waktu terus bertambah, namun dia yang kami tunggu-tunggu belum muncul juga. Sebenarnya sih ia sudah ada sejak tadi, hanya saja kumpulan awan-awan dilangit bersekongkol tidak memberikan kesempatan padanya untuk nongol.
Wajah Dewi dan Anto (bukan nama sebenarnya) tampak kecewa. Betapa tidak, jauh-jauh dari Jakarta, datang ke Pulau Dewata, terus bangun pagi-pagi buta, mendahului ayam Bali, maksud hati ingin prewedding dengan background sunrisenya Sanur, eh justru background utamanya gak ada. Sanurnya sih ada…mataharinya yang gak ada. Apa jadinya sunrise tanpa benda bulat bersinar itu.
“Mas aku ke toilet dulu,” kata Dewi kepadaku, “belum sempet nih buang sampahnya di hotel”.Aku mengangguk tersenyum.
Tetapi kemudian terjadilah sesuatu yang tidak terduga. Entah karena angin yang bertiup kencang, atau karena memang sudah bosan kongkow-kongkow awan-awan itupun menepi, lalu tampaklah Sang Primadona yang kami tunggu-tunggu. Matahari pagi. Sejujurnya, meski sudah tidak terhitung banyaknya melihat sunrise, belum pernah sekalipun aku mengalami hal seperti ini. Tidak hanya suasana pantai dan gradasi warna yang berubah, wajah Anto pun jadi sumringah. Bak karyawan, dibolehin libur tanpa potong cuti sama Boss. Parahnya, Dewi yang lagi nongkrong tidak tahu sedikitpun tentang perkembangan menggembirakan ini.
Kuatir awan-awan segera akan menutupi Sang Surya, aku menganjurkan agar Anto menyusul Dewi ke toilet yang letaknya tidak jauh dari tempat kami menunggu dan menyuruhnya bergegas. Sementara aku dan crew menyiapkan peralatan kami.
Lalu terdengarlah dialog sebagai berikut,
“Yang..mataharinya keluar. Buruan Yang”, teriak Anto
“Tapi aku masih nanggung Babe”, Dewi menyahut dengan suara tertahan seperti layaknya seseorang yang sedang menghimpun kekuatan untuk mendorong sesuatu.
“Nanti aja diterusinnya Yang, mataharinya ntar ketutupan awan lagi lho !!”, balas Anto
“Aduh gimana caranya nih ? suer lagi nanggung banget babe”, jawab Dewi gugup.
“Alaaah..potong aja dulu…ntar dilanjutin”, teriak Anto mulai kesal.
“Ya ampun sabar dong..Babe”,pinta Dewi
“Dasar lelet nih..awas ya kallo sunrisenya gak dapet”, ancam Anto
“Iya sayang..lagi cebook nih”. Kini terdengarlah suara kedombrangan dari dalam toilet, entah apa yang terjadi hanya Dewi yang tahu.
“Dewiiiiiii !!!!!!!!”, teriakan terakhir Anto inilah yang membuat akhirnya Dewi nongol meski dengan nafas terengah-engah, seperti bebek yang baru habis diuber-uber anjing.
Tanpa babibu, Anto segera menyeret Dewi ke tepi pantai lalu bergegas memposisikan diri seperti phose yang ia harapkan. Mengatur posisi tangan, kaki, badan singkatnya segala sesuatu yang biasanya menjadi tugas kami. Sementara Aku dan crew hanya tertawa geli menyaksikan tingkah keduanya.
Setelah kurang lebih satu jam melakukan pemotretan. Dewi bergegas menghampiriku, “Gimana Mas Ted, sudah dapet khan ?”. Aku menyodorkan kamera kepadanya, “Nih liat aja sendiri ya Wi”.
Sejenak mereka berdua terlihat serius mengamat-amati photo-photo sunrise mereka, sambil tersenyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba Dewi bertanya,”Mas Teddy..kira-kira perlu lagi gak ?”.
“Lho terserah kalian”, jawabku,”As long as you ready, I’m ready too”.
“Kayanya cukup ya..”, sahut Dewi sambil melirik kearah Anto.
Anto terlihat mengangguk-angguk, tangannya masih terlihat menggenggam kameraku.
“Ya sudah..kallo gitu aku cabut dulu yah”, ujar Dewi sambil bergegas lari kearah toilet.
“Yang..kamu mo ngapain ??”,tanya Anto.
“Lho..khan mau nerusin POTONGAN yang tadi..babe”, ujar Dewi tanpa menoleh kebelakang dan segera menutup pintu toilet.
“HA..HA..HA..HA....!!!!” dan kami semuapun tertawa terbahak-bahak. [mtaphotography::karena manusia berharga dan mulia]
Indra, Mantan Pemalu yang ‘OD’
by Made Teddy Artiana, S. Kom
MTA PHOTOGRAPHY
[karena manusia mulia dan hidupnya berharga]
teddyartiana_photography@yahoo.com
Mengajaknya untuk mau foto prewedding sama susahnya dengan menyeret seekor kambing ke air. Sejujurnya, aku sendiri belum pernah memandikan seekor kambing, kalau anjing, burung atau ayam, pernah. Tapi kata orang-orang tua, memandikan seekor kambing memang susah. Mungkin karena itu, kambing meskipun enak, tapi berbau tidak sedap. Karena jarang mandi. Entahlah, hanya kambing yang tahu mengapa mereka bau. Tetapi sama misteriusnya dengan masalah kambing diatas, clientku yang satu ini juga tidak kalah misteriusnya. Entah apa yang ada dalam pikiran Indra (bukan nama sebenarnya), mungkin hanya ia yang tahu. Mungkin –ini hanya tebakanku- jauh lebih mudah berlari memutari GOR Senayan belasan kali, bagi seorang Indra, dibanding harus harus berdiri menunggu difoto oleh seorang fotografer. Jangankan prewedding, hampir 5 tahun pacaran, Indra dan pacar nya tidak pernah punya foto berdua. Ada sih satu…tapi foto itu hasil guntingan. Maksudnya begini, sebenarnya mereka foto beramai-ramai, kemudian saking pengennya Lia (si cewek) punya foto berdua, dia menggunting semua teman-temannya dan menyisakan mereka berdua. Itupun…Indra berada dalam phose yang jauh dibawah standard. Sama sekali bukan foto yang asyik buat disimpen di dompet. Oh iya satu lagi…jika diperhatikan lebih teliti, ada yang ganjil dengan foto itu. Walaupun samar, tampaklah lengan Lia “mencengkeram” bahu Indra, sangat jelas Indra lebih dari sekedar terpaksa melakukannya. Wajahnya persis seperti Kiki, anak tetanggaku sebelah rumah, yang lagi dimarahin sama embahnya karena ketangkep basah maen hujan. Kasihan…ck..ck..ck..
Meskipun bujuk rayu calon istrinya mungkin sudah melebihi godaan para bidadari menggoda Arjuna yang sedang bertapa. Tetapi Indra melebihi Arjuna. Tak bergeming. Meskipun “godaan” meningkat levelnya – karena BIG BOSS alias calon mertua- ikut serta, Indra tetap keukeuh. Beberapa bulan sudah mereka mencoba membujuk Sang Arjuna, tetapi tidak ada hasilnya. Akhirnya para penggoda kehabisan energi. BeTe abis !! There is no prewedding photo. No way !!! Begitu kira-kira kesimpulan akhirnya. Ingin tahu berapa lama acara bujuk-membujuk dan goda-menggoda itu berlangsung…hampir 1 tahun !!!
Akhirnya atas saran ku, acara photo prewedding itu kami eliminasi. Tetapi setelah beberapa saat terlupakan, tiba-tiba sebuah telepon 'aneh' dipagi yang cerah mengagetkan kami. Coba tebak kira-kira apaan…Indra mengajak photo prewedding !!! Gila..!! Ini benar-benar sebuah kejutan yang luar biasa..seperti bangun pagi hari, terus iseng noleh ke Barat, eh tiba-tiba matahari ada di Barat..nah lho…kaget dong pastinya !
Singkat cerita acara prewedding pun tiba. “Kok bisa..?” tanyaku setengah berbisik pada Lia. Yang ditanya cuma tersenyum, toleh kanan kiri kemudian “Sssssttttt…” sambil telunjuknya ditempelkan di depan bibir. ‘Rahasia’..atau ‘udah nggak usah dibahas’…gitu kira-kira maksudnya. Dan akupun balas tersenyum.
Setengah hari berlangsung..tak dinyana Indra ternyata berubah total. Sungguh perubahan yang dramatis, cenderung mulai mengkawatirkan. Betapa tidak, seorang yang luar biasa pemalu, sekarang malah sok bukan cuman ngarahin gaya, malah ngatur angle !! “Mas Teddy ngambilnya dari sana aja Mas…. Coba deh Mas…”. Aku nyaris tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan mata ini. But it’s real !! Malah sekarang Lia mulai agak was-was mengamati gerak-gerik calon suaminya ini…kok semakin genit dan narsis. Dari bersemangat, Lia berubah jadi cemberut..terus mulai uring-uringan..dan meningkat jadi agak emosian. Ada sedikit kecemburuan dan kecurigaan terbersit di matanya. Kemenangan, berubah jadi ancaman serius. Bisa dimengerti sih, kambing-yang tidak pernah mengenal air itu- sekarang malah berenang gaya kupu-kupu di pantai kuta !! Tetapi Si Mantan Pemalu ini seolah nggak peka dan sama sekali tidak menggubris reaksi Lia. Gazzz-waattt !!!
Sampai suatu ketika Indra ngotot untuk mengambil phose sendiri-sendiri. Astaga…gila. Bahkan, Lia yang pengen nimbrung, ditolaknya. “Dik..nanti aja dulu..biar aku dulu”, begitu kilahnya. Bisa dibayangkan shocknya Lia menghadapi perubahan drastis ini. Ini puncaknya. Lia melotot tidak kuasa menahan marah, keqi, curiga dan cemburu kemudian berujar dengan sangat sinis.. “Jadi gini Mas..? Maunya sendiri..yo wis sekalian aku nggak ikutan aja..biar kamu kawin sendiri ae….!!!!!” kemudian balik belakang..ngambek meninggalkan kami. Apa yang terjadi kemudian bisa ditebak..habislah waktu kami beberapa jam untuk membujuk ‘Tuan Putri’ Lia untuk mau melanjutkan foto prewedding.
Indra..Indra…beginilah akibat jika mengkonsumsi obat narsis berlebihan.(end)
MTA PHOTOGRAPHY
[karena manusia mulia dan hidupnya berharga]
teddyartiana_photography@yahoo.com
Mengajaknya untuk mau foto prewedding sama susahnya dengan menyeret seekor kambing ke air. Sejujurnya, aku sendiri belum pernah memandikan seekor kambing, kalau anjing, burung atau ayam, pernah. Tapi kata orang-orang tua, memandikan seekor kambing memang susah. Mungkin karena itu, kambing meskipun enak, tapi berbau tidak sedap. Karena jarang mandi. Entahlah, hanya kambing yang tahu mengapa mereka bau. Tetapi sama misteriusnya dengan masalah kambing diatas, clientku yang satu ini juga tidak kalah misteriusnya. Entah apa yang ada dalam pikiran Indra (bukan nama sebenarnya), mungkin hanya ia yang tahu. Mungkin –ini hanya tebakanku- jauh lebih mudah berlari memutari GOR Senayan belasan kali, bagi seorang Indra, dibanding harus harus berdiri menunggu difoto oleh seorang fotografer. Jangankan prewedding, hampir 5 tahun pacaran, Indra dan pacar nya tidak pernah punya foto berdua. Ada sih satu…tapi foto itu hasil guntingan. Maksudnya begini, sebenarnya mereka foto beramai-ramai, kemudian saking pengennya Lia (si cewek) punya foto berdua, dia menggunting semua teman-temannya dan menyisakan mereka berdua. Itupun…Indra berada dalam phose yang jauh dibawah standard. Sama sekali bukan foto yang asyik buat disimpen di dompet. Oh iya satu lagi…jika diperhatikan lebih teliti, ada yang ganjil dengan foto itu. Walaupun samar, tampaklah lengan Lia “mencengkeram” bahu Indra, sangat jelas Indra lebih dari sekedar terpaksa melakukannya. Wajahnya persis seperti Kiki, anak tetanggaku sebelah rumah, yang lagi dimarahin sama embahnya karena ketangkep basah maen hujan. Kasihan…ck..ck..ck..
Meskipun bujuk rayu calon istrinya mungkin sudah melebihi godaan para bidadari menggoda Arjuna yang sedang bertapa. Tetapi Indra melebihi Arjuna. Tak bergeming. Meskipun “godaan” meningkat levelnya – karena BIG BOSS alias calon mertua- ikut serta, Indra tetap keukeuh. Beberapa bulan sudah mereka mencoba membujuk Sang Arjuna, tetapi tidak ada hasilnya. Akhirnya para penggoda kehabisan energi. BeTe abis !! There is no prewedding photo. No way !!! Begitu kira-kira kesimpulan akhirnya. Ingin tahu berapa lama acara bujuk-membujuk dan goda-menggoda itu berlangsung…hampir 1 tahun !!!
Akhirnya atas saran ku, acara photo prewedding itu kami eliminasi. Tetapi setelah beberapa saat terlupakan, tiba-tiba sebuah telepon 'aneh' dipagi yang cerah mengagetkan kami. Coba tebak kira-kira apaan…Indra mengajak photo prewedding !!! Gila..!! Ini benar-benar sebuah kejutan yang luar biasa..seperti bangun pagi hari, terus iseng noleh ke Barat, eh tiba-tiba matahari ada di Barat..nah lho…kaget dong pastinya !
Singkat cerita acara prewedding pun tiba. “Kok bisa..?” tanyaku setengah berbisik pada Lia. Yang ditanya cuma tersenyum, toleh kanan kiri kemudian “Sssssttttt…” sambil telunjuknya ditempelkan di depan bibir. ‘Rahasia’..atau ‘udah nggak usah dibahas’…gitu kira-kira maksudnya. Dan akupun balas tersenyum.
Setengah hari berlangsung..tak dinyana Indra ternyata berubah total. Sungguh perubahan yang dramatis, cenderung mulai mengkawatirkan. Betapa tidak, seorang yang luar biasa pemalu, sekarang malah sok bukan cuman ngarahin gaya, malah ngatur angle !! “Mas Teddy ngambilnya dari sana aja Mas…. Coba deh Mas…”. Aku nyaris tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan mata ini. But it’s real !! Malah sekarang Lia mulai agak was-was mengamati gerak-gerik calon suaminya ini…kok semakin genit dan narsis. Dari bersemangat, Lia berubah jadi cemberut..terus mulai uring-uringan..dan meningkat jadi agak emosian. Ada sedikit kecemburuan dan kecurigaan terbersit di matanya. Kemenangan, berubah jadi ancaman serius. Bisa dimengerti sih, kambing-yang tidak pernah mengenal air itu- sekarang malah berenang gaya kupu-kupu di pantai kuta !! Tetapi Si Mantan Pemalu ini seolah nggak peka dan sama sekali tidak menggubris reaksi Lia. Gazzz-waattt !!!
Sampai suatu ketika Indra ngotot untuk mengambil phose sendiri-sendiri. Astaga…gila. Bahkan, Lia yang pengen nimbrung, ditolaknya. “Dik..nanti aja dulu..biar aku dulu”, begitu kilahnya. Bisa dibayangkan shocknya Lia menghadapi perubahan drastis ini. Ini puncaknya. Lia melotot tidak kuasa menahan marah, keqi, curiga dan cemburu kemudian berujar dengan sangat sinis.. “Jadi gini Mas..? Maunya sendiri..yo wis sekalian aku nggak ikutan aja..biar kamu kawin sendiri ae….!!!!!” kemudian balik belakang..ngambek meninggalkan kami. Apa yang terjadi kemudian bisa ditebak..habislah waktu kami beberapa jam untuk membujuk ‘Tuan Putri’ Lia untuk mau melanjutkan foto prewedding.
Indra..Indra…beginilah akibat jika mengkonsumsi obat narsis berlebihan.(end)
Pengalaman “Mengerikan” Di Kota Tua
by Made Teddy Artiana, S. Kom
MTA PHOTOGRAPHY
[karena manusia berharga dan mulia]
e: teddyartiana_photography@yahoo.com
Pilihan jatuh pada lokasi Kota Tua. Bagi yang belum tahu, nama Kota Tua diperuntukan bagi Museum Fatahillah dan sekitarnya. Mengapa disebut “Tua” ya karena memang viewnya klasik banget, maklum peninggalan Zaman Londo.
Kedua calon pengantin yang tengah prewedding itupun sudah bersiap-siap. Mereka typical yang simple. Pakaian casual, biasa seragam nasional prewedding, biru-putih. Bawah jeans biru, atas kemeja putih. Dari wajahnya, tampaknya mereka sangat antusias.
Spot pertama yang kupilih adalah terowongan putih, bangunan berstupa merah itu. Biasanya begitu banyak ‘gelandangan’ ataupun tukang ojek sepeda yang tidur diterowongan ini. Pagi ini terowongan itu bersih. Lumayanlah, tugas nge-rethouch di komputer jadi enteng J
Posisi diatur, dan segera prewedding itupun dimulai. Baru sekitar 5 jepretan. Sebuah teriakan mengagetkan kami.
“Hoooooiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…Baliiii..........Nah ketangkep basah lu”
Aku terperanjat, mengenali sosok itu dan beberapa mahluk yang tampak nyengir kuda dibelakangnya. Gawat !!! Tiga mobil kijang yang parkir didekat kami tidak lain dan tidak bukan adalah teman-teman dari club fotografiku di BCA. Mereka kebetulan sedang hunting dilokasi ini, dan aku karena ada “tugas” prewedding, terpaksa mbolos alias nggak ikutan. Tapi sial…..mereka memergoki ku ditempat ini.
Pasukan haus motret itupun segera membentuk posisi setengah lingkaran. Apa yang aku kuatirkan terjadi. Terlambat untuk kabur. Clientku terkepung. No way out J. Hanya dapat hitungan detik, kira-kira duapuluh fotografer sudah mengeroyok clientku. Kilatan blitz menyala dimana-mana, Moncong-moncong lensa dari yang pendek hingga yang panjang semua terara ke client ku. Belum lagi teriakan-teriakan khas fotografer.
“Ok mbak miring dikit..yak”
“Senyum..bibir dibuka..tahan”
“Mas berdirinya tegak..oke..”
“Matanya…ngeliat sesuatu dong…”
“wajahnya relaks aja..santai..siaaappp”
Keringat tampak mengalir di kening Si Cowok. Grogi, malu, bingung pasti campur aduk jadi satu. Tapi yang cewek…ini bedanya cowok dan cewek.. seolah selebrity di red carpet…dia bergaya…lupa kallo ini prewedding..lupa sama cowoknya ..pendek kata daratan..ha..ha..ha…maklum cewek.
Karena nggak tahan Si Cowok memberi ku kode supaya memberikan pertolongan. Kasihan…ia terlihat shock berat. Akhirnya akupun turun tangan tidak tega menyaksikan ekspresi memelas dari wajahnya. Pengeroyokan selama setengah jam itupun kelar sudah…setelah berbasa-basi dengan kawan-kawan sebentar akupun mohon diri. Sementara Si Cewek masih senyam-senyum tebar pesona..(tetep)
Sedangkan cowoknya ? Sama sekali beda. Berjalan gontai, dan wajah pucat. Baju lepek sama keringet dingin. Menyeka keringat di jidat sambil menggeleng-gelengkan kepala bergumam…”mengerikan…sungguh-sungguh setengah jam yang mengerikan !!!” (end)
[mtaphotography::karena manusia berharga dan mulia]
Langganan:
Postingan (Atom)